Istiqomah dalam penugasan Dakwah

“Jika ingin pergi cepat, maka berjalanlah sendirian. Tapi jika ingin pergi jauh, maka berjalanlah bersama-sama.”

Sebuah rumah yang kokoh dan indah, pastinya mempunyai bagian masing-masing yang saling melengkapi. Ada teras dan halaman yang membuat orang tertarik untuk berkunjung. Ada juga pondasi kokoh yang berada dibawah tanah, tidak terlihat, tetapi menopang seluruh beban bangunan.

Analogi di atas bisa dijadikan perumpamaan tugas kita dalam berjamaah. Ketika bergerak bersama, saling menopang, saling melengkapi maka jamaah ini akan kuat. Ketika pemimpin memberikan instruksi, maka jamaah wajib menaatinya untuk menyukseskan apa yang akan diraih. Ada visi besar dakwah yang harus disebarkan ke seluruh penjuru dunia.

Apa yang terjadi ketika semua jamaah ingin menjadi “teras” agar selalu tampak dari luar dan terlihat indah? ya, bangunannya mungkin indah, tapi hanya tampak dari depan saja. Egosentris yang muncul dari tiap orang, akan merusak jamaah itu sendiri. Kemenangan Islam adalah sebuah keniscayaan, ketika setiap muslim sadar akan artinya persatuan dan mau bersatu.

Kekalahan Perang Uhud

Kita dapat belajar banyak dari kekalahan Perang Uhud, yang dijelaskan pada surat Ali ‘Imran. Ketika umat muslim yang sejatinya menang, harus mengalami kekalahan karena tidak taatnya beberapa orang prajurit. Kaum muslimin dipukul telak, banyak nyawa yang meregang, bahkan Rasulullah mengalami luka yang serius. Pasukan pemanah yang diperintahkan untuk tetap berdiam diri sebelum instruksi, ternyata lebih tergoda dengan rampasan perang yang mulai ditinggalkan oleh musuh.

Sahabat sudah pasti orang yang mulia meskipun terjadi kelalaian, cuma kita dapat mengambil banyak pelajaran dari kekalahan Perang Uhud tersebut. Ketika kita mendapatkan amanah, peran di dalam jamaah laksanakan sebaik mungkin. Taati pemimpin, meskipun masukan, saran dan kritik juga kadang dibutuhkan. Banyak juga kisah yang menceritakan dengan solidnya jamaah, akan mencapai kemenangan.

Muhasabah dan Evaluasi

Kesalahan dan perbedaan dalam jamaah sudah pasti ada. Kelalaian individu juga sangat mungkin sekali terjadi. Apalagi penyakit terbesar yang menyerang umat muslim yaitu cinta akan dunia dan takut dengan kematian. Senantiasa evaluasi dan muhasabah untuk menjadi lebih baik lagi. Tugas kita hanyalah berusaha, tetapi dengan usaha yang terbaik yang kita bisa. Selama di jalan yang sama untuk selalu beristiqomah dalam menolong agama Allah, Allah juga akan mempermudah jalan yang kita tuju.

Dakwah = Cinta

Dakwah merupakan cinta, bentuk kasih sayang kita untuk manusia lainnya. Entah itu keluarga, saudara, kawan, atau lingkup yang lebih besar. Dakwah merupakan proses menyampaikan apa yang haq dan yang bathil. Dalam penyampaiannya memerlukan proses yang panjang, semua lini harus bergerak dan butuh pengorbanan. Ambil peran sekarang dalam berjamaah, saling menjaga dan saling menguatkan dalam jalan dakwah ini.

“Layaknya lidi, yang tak ada gunanya jika hanya satuan saja. Tetapi, ketika diikat dan dikumpulkan menjadi satu, kotoran mana sih yang tak bisa disapu?”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *